Komunitas Yahudi Manado

Posted: Juni 22, 2012 in Uncategorized

Sulawesi Utara membuktikan diri sebagai lokasi toleran antar umat beragama. Pemerintah setempat menjadikan rumah ibadah umat Yahudi, Ibrani Ohel Yaakov Synagogue, Kelurahan Rerewokan, Tondano Barat, Minahasa, Sulawesi Utara sebagai tempat wisata.
Synagogue yang berada di jalan utama ini berdiri semenjak tahun 2004 dan dibangun oleh wisatawan asal Belanda pasangan J P Van Der Stoop dan istri. Pasangan ini mengucurkan dana kepada Raabi Yaakov Baruch yang membeli bangunan bermotifkan rumah Israel milik paman Raabi Baruch, Leo Van Beugen. Beugen merupakan keturunan Yahudi pemeluk Katolik.
“Awalnya tempat ini bangunan dua lantai dengan tiga kamar di dalamnya,” kata Leo Van Beugen. “Tapi pada tahun 2004 kedatangan J P Van Der Stoop merasa jika rumah tersebut layak dijadikan Synagogue. Jadilah kemudian rumah ini dibeli oleh keponakan saya untuk dipugar menjadi Synagogue seperti saat ini.”
Leo Van Beugen merupakan keturunan Yahudi. Berdasarkan garis darah keturunannya, Beugen dan Baruch dipercaya sebagai pemegang kunci Synagogue. Opa Leo, sapaan akrabnya, mengatakan jika Synagogue diresmikan JP Van Der Stoop pada 17 September 2004 atau 2 Tishrei 5765 dalam tahun Yahudi.
Opa Leo merupakan pemegang sertifikat guide yang diakui Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Belanda. Ia menjelaskan pada tahun 2009 Sulawesi Utara menjadi tuan rumah pelaksanaan kegiatan World Ocean Conference (WOC), Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten Minahasa meminta kesediaan Opa Leo supaya menjadi guide dari Synagogue. Lokasi ini pun dijadikan situs pariwisata Sulawesi Utara.
“Makanya pada tahun 2009, lokasi ini kami hias dan kami perbaiki kembali karena memang sudah menjadi situs wisata,” kata Opa Leo.
Waktu beribadah di Synagogue Tondano, Opa Leo mengungkapkan, setiap hari Sabtu saat Raabi Baaruch berada di Sulawesi Utara. “Namun jika ada wisatawan yang kebetulan adalah penganut paham Yahudi maka mereka akan datang untuk beribadah. Yang pasti untuk jemaat tetapnya Synagogue ini pasti ada tetapi ibadahnya tergantung Raabi.”
Toar Palilingan Jr sudah hampir tak mengetahui asal-usul keluarganya. Sepengetahuannya, keluarganya merupakan keturunan Yahudi asal Belanda. Sembilan tahun sudah ia mencari tahu mengenai keluarga besarnya. Supaya mudah menemukan mereka, Palilingan mendirikan sebuah komunitas. Ia memberi nama Jewish Community North Sulawesi.
Dari komunitas inilah berkumpul keturunan Yahudi di seluruh daerah se-Sulawesi Utara. Komunitas persaudaraan ini kemudian terus berkembang hingga kini. Jumlah anggotanya sudah mencapai 200 orang. ”Saya pertama kali diajak untuk membentuk komunitas ini langsung bilang ke Raabi Yaakov Baruch agar tidak mencampur adukan yang namanya komunitas persaudaraan dengan doktrin agama,” kata kepala Divisi Informasi dan Komunikasi Komunitas Yahudi Sulawesi Utara, Irvan Grossman.
Raabi Yaakov Baruch merupakan nama Ibrani dari Palilingan Jr. Yaakov merupakan salah satu keturunan Yahudi yang pernah berada di Sulawesi Selatan. Sejumlah marga lain juga sudah turun-temurun di Manado, seperti Bolegraf, Van Beugen, dan Grosman.
Keberadaan mereka diperkuat dengan adanya sebuah bagunan Synagogue di jalan Garuda Kecamatan Wenang, dekat lokasi wisata kuliner Wakeke di Kota Manado. Synagogue ini sendiri merupakan rumah keluarga Bollegraf. Warga Sulawesi menyebut Bollegraf sebagai keturunan orang Borgo.
Komunitas Yahudi Sulawesi Utara dikenal masyarakat luas pada tahun 2006, setelah Tsunami Aceh. Kala itu komunitas ini mencarikan bantuan dari orang Yahudi di dunia. “Komunitas ini hanya melobi keturunan Yahudi di luar dan dalam negeri, termasuk negara Israel supaya membantu korban Tsunami Aceh. Dan berhasil,” kata Grossman.
Pada tahun 2004, bagunan Synagogue didirikan lagi di daerah Tondano. Bagunan ini diberi nama Ohel Yaakov Synagogue atau Synagog tempat Yaakov. Leo Van Beugen, salah satu keturunan Yahudi di Sulawesi Utara, mengatakan eksistensi masyarakat Yahudi sudah sangat lama dan berbaur dengan masyarakat. Orang Yahudi biasanya sedikit pendiam dan minder bergaul, beberapa diantaranya kemudian memilih menanggalkan status keturunannya.
Mereka memilih mengganti marga dan memilih agama mayoritas daerah yang ditinggalinya. “Beralihnya marga dan agama ini dikarenakan warga keturunan ini mencoba bisa berbaur dengan masyarakat,” kata Opa Leo, yang juga juru kunci Synagogue Ohel Yaakov.
“Soalnya jika mereka tetap menggunakan nama maupun agama Yahudi maka sudah dipastikan para keturunan Yahudi ini semakin dikucilkan dalam pergaulan.” Seiring dengan keberadaan Raabi, masyarakat keuturunan Yahudi kembali menunjukan diri. Mereka beralasan Imam masyarakat Yahudi di Sulawesi Utara sudah ada.
Dari situ, warga keturunan Yahudi ini membentuk komunitasnya. Irvan Grossman mengaku komunitas menjadi wadah bagi mereka saling mengetahui asal-usulnya.Komunitas tak mau disangkutpautkan dengan agama Yahudi. “Yang jelas, Komunitas ini hanyalah komunitas para keturunan Yahudi bukan Agama Yahudi,” kata Grossman menerima dirinya sebagai orang Yahudi pada akhir tahun 2005.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s